Tsunami Jepang Picu Harga Bahan Baku Plastik Naik

JAKARTA - Harga bahan baku plastik di kawasan Asia Tenggara mengalami kenaikan sebesar USD20-30 per ton. Hal itu menyusul adanya ledakan kilang akibat tsunami yang terjadi di Jepang. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan, Jepang mengimpor dari Timur Tengah dan Singapura. Penguatan harga tersebut diprediksi akan bertahan hingga April 2011.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (INAPLas) Fajar AD Budiyono mengakui, bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang sempat menyebabkan harga minyak mentah light sweet anjlok hingga ke level di bawah USD100 per barel. Namun, lanjut dia, kondisi berbeda terjadi pada produk primer dan intermedia, meliputi nafta, monomer, dan polimer.

"Harga minyak mentah memang turun, tapi nafta, monomer, dan polimer justru naik. Kami perkirakan dengan kondisi seperti sekarang, kenaikan harga akan bertahan setidaknya hingga awal April," kata Fajar di Jakarta, Senin (14/3/2011).

Fajar menjelaskan, berdasarkan perkembangan terakhir, harga nafta bergerak di posisi

sekitar USD950-980 per ton. Sedangkan, monomer pada posisi USD1.475-1.500 per ton, etilena USD1.250-1.300 per ton, polipropilena berada di kisaran harga USD1.750 per ton, sedangkan polietilena sekitar USD1.320-1.350 per ton.

"Polimer naik sekitar USD20 per ton, sedangkan monomer USD30 per ton dibandingkan dengan bulan lalu. Gempa dan tsunami, telah merusak fasilitas kilang minyak yang memiliki kapasitas produksi nafta, etilena, dan propilena masing sekitar satu juta ton per tahun. Butuh waktu sekitar enam bulan bagi Jepang untuk memulihkan kondisi kilang yang dioperasikan oleh Cosmo Oil Co tersebut," papar Fajar.

Di sisi lain, Fajar menjelaskan, pergerakan harga produk petrokimia, terutama propilena, polipropilena, dan polietilena, disebabkan oleh rencana pemeliharaan rutin beberapa kilang di Singapura dan Korea Selatan. Sedangkan, kata dia, harga etilena mulai turun karena kilang-kilang beroperasi aktif pasca menjalani perawatan rutin. "Pasokan etilena, harga menjadi turun, sedangkan PE, propilena, dan PP tetap tinggi,"ucapnya.

Fajar menuturkan, Indonesia mengimpor PP dari Jepang sekitar 8.000 ton per tahun dan terus menurun pada 2010. Sehingga, kata dia, seharusnya tsunami tidak berdampak besar bagi Indonesia. "Namun karena pasokan domestiknya bermasalah, Jepang kemungkinan akan menguras produk petrokimia dari berbagai sumber, termasuk dari Timur Tengah dan Singapura. Tadinya Jepang mengekspor. Dengan kondisi sekarang mereka terpaksa impor dari berbagai sumber. Ini bisa menyebabkan masalah pada pasok dan permintaan sehingga harga akan merangkak naik," tandas Fajar.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S Hamidjaja mengkhawatirkan, terhambatnya pasokan PP jenis terpolymer yang banyak diimpor dari Jepang. Jenis polimer yang terdiri

dari tiga monomer tersebut digunakan untuk memproduksi jenis-jenis bahan baku

kemasan fleksibel tertentu.

"Kami harus mengecek datanya terlebih dahulu, termasuk untuk specialty plastics resin yang digunakan untuk kemasan fleksibel bagi produk-produk seperti deterjen cair, minyak goreng dan lainnya," kata Felix.