INDAG, 26 Mei 2012 Pkl. 07:47 WIB Impor Produk Plastik Masih Tinggi


MedanBisnis – Medan. Produk-produk berbahan plastik impor masih saja terus membanjiri pasar di Sumut, khususnya mainan anak-anak dan baskom perlengkapan rumah tangga yang dijual dengan harga murah.
Pengamat perdagangan luar negeri, Suhariel Latief mengungkapkan, asal impor plastik memang masih didominasi Malaysia. Namun menurutnya, dengan komposisi impor plastik dan barang dari plastik yang hanya 3,11% dari total impor, sebenarnya sudah menunjukkan semakin minimnya peredaran barang tersebut di pasaran.

"Memang, impor plastik ini masih diperlukan karena banyak digunakan sebagai bahan baku untuk industri. Kenyataannya, di dalam negeri masih banyak juga industri yang kewalahan karena kekurangan bahan baku," ujarnya, kepada wartawan, di Medan, Kamis (24/5).Ia mengatakan, pemintaan plastik impor akan terus bertambah jika pemerintah tidak meningkatkan kualitas produknya dengan salah satu cara memberikan Standard Nasional Indonesia (SNI) pada produk-produk berbahan plastik. Pemberlakukan SNI ini harus diperketat supaya peredarannya dipasaran bisa diminimalkan. Dengan begitu, pembelian juga akan otomatis berkurang.

Namun, memang masuknya plastik dan barang dari plastik itu hampir rata legal. Jadi, yang perlu dikhawatirkan adalah barang ilegal yang membuat "jatuhnya" harga dan penjualan produk lokal. "Sebab itu, yang diperlukan adalah pengawasan dari pemerintah. Mulai dari sebelum komoditas itu masuk sampai beredar di pasar," tegasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut pada triwulan I-2012, komoditas HS 39 itu mencapai US$ 51,133 juta dengan volume  42.102 ton. Dibandingkan periode yang sama tahun 2011 nilainya naik 5,52% dari US$ 48,460 juta dengan volume 36.057 ton, dan semakin menguatkan jumlah importasi produk plastik ini masih cukup marak beredar di pasaran.

Kepala BPS Sumut Suharno mengatakan, importasi plastik dan barang dari plastik terbesar dari Malaysia dengan nilai US$ 16,095 juta dan volume 12.280 ton. Diikuti Arab Saudi dengan nilai impor mencapai US$ 9,243 juta dan volume 3.333 ton, Thailand senilai US$ 5,660 juta dan volume 4.370 ton, China US$ 4,716 juta dan volume 4.257 ton, Kuwait US$ 4,621 juta dan volume 4.656 ton, serta negara lainnya senilai US$ 10,798 juta dengan volume 8.168 ton. (elvidaris simamora)

Sat, 26 May 2012 @10:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+1+7